telah semakin rapuh hidupku

bergelut bersama panas dingin melulu

pada cuaca yang semakin tak tentu

kadang lembab kadang berdebu

dan kini harap layu

sekeliling nyaris tak kutemui tumbuh

generasi penerus yang akan menggantikan ini tubuh

kecuali sedikit jumlah tiada tentu

dan saling jauh

-

generasi yang aku tahu

tak mampu jua berikan teduh

meranggas tunas usang terhidu

pada lahan yang kini sudah tak lagi pada mutu

dan air lalu tiada terserap utuh

tersesat pada lapis-lapis tebing kaca pasir jua batu

yang nyata berdiri angkuh

-

“tolong, jangan tebang aku”

ratap saudaraku lalu

hanya menjadi bisikan bisu di angin lalu

pada tangan-tangan angkuh

tiada ragu babat sudah satu persatu

hingga penjuru

hingga sudut yang tiada pernah aku tahu

tak terbilang sungguh

-

manusia, masihkah tidak kau pedulikan itu

dan tetap turutkan segala mau

segala hendak yang lekat bersama nafsu

saat bumi yang kau tunggu

benar-benar kehilangan rasa teduh?

jawab itu jawab kataku

pun hanya dengan bisik hatimu

jika memang kau masih punya segumpal darah itu

dan kalau kau dengar suaraku

tentu

-

Bengkulu, 29 Maret 2013

Catatan Si Kucing Hitam

Penulis :

Sumber : fiksi.kompasiana.com

Dan mereka pun saat itu di panggung, menjanjikan perubahan dan perbaikan dengan wajah sungguh-sungguh dan penuh tekad. Berbondong-bondong rakyat datang bawa nenek renta dan juga balitanya di kampanye yang sesak.Untuk apa nenek renta dan balita datang ke situ? Karena janjinya siapapun dan berapapun yang datang akan dibagi-bagikan uang dari  ponjen-ponjen berisi masing-masing 30 keping perak.

Setelah terpilih, giliran mereka yang mewakili si khalayak mengumpuli balik ponjen yang tersebar.Pengusaha yang alim pun diporotin apalagi pengusaha nakal. Dari hanya mengumpulkan ponjen berisi 30 perak murni, sampai ponjen yang diletakkan di perut mulus mahasiswi sexy teman ngobrol dan ngupi-ngupi.

Kalau toh tertangkap tangan ada ponjen bergentayangan, saat pengadilan akan digelar tetap ada saja hakim yang bersedia menjual ’suara Tuhan-nya’ dengan harga sama: 30 keping perak.

Bila semua hal diatas membuat kejenuhan, sesekali beliau-beliau dugem di tempat hiburan sampai larut malam. Dan pulang dalam kantuk hebat di jalan bebas hambatan. Kalaupun menabrak mobil lain yang menimbulkan korban, cukuplah damai dengan ponjen 30 keping perak.

Ya, ketika harga sebuah negeri sudah jelas dipatok 30 keping perak, semua urusan akan jelas pengurusannya.

Namun si pengguna jasa ponjen 30 keping perak pasti lupa akan kisah lama di 2000 tahun lalu lamanya, bahwa ponjen-ponjen itu bekerja tidak cuma-cuma, harus ada tumbal satu nyawa tergantung di sebuah pohon ara pada akhir cerita dan tanah ditempat  ponjen itu terjatuh dari tangan si tumbal akan dinamai ‘tanah darah’.

Masih ada 2014 ponjen kini tersisa. Siapa yang mau punya?

Penulis :
Married, internist, terverifikasi . fb: pbsiahaansppd@yahoo.com. follow my twitter @PosmaBSSpPD

Sumber : fiksi.kompasiana.com

PUISI

Yang Lainnya »

HUMOR

Yang Lainnya »

KATA MUTIARA

Yang Lainnya »

INFO FILM

Yang Lainnya »

CERPEN

Yang Lainnya »

RENUNGAN

Yang Lainnya »

TIPS REMAJA

Yang Lainnya »

INFO BUKU

Yang Lainnya »

Followers

Berita Populer Minggu Ini