Ibu Tahu Bapak Selingkuh

Diposkan oleh Andi Aryatno Rabu, 09 Mei 2012

Aku bangga pada bapak tapi sekaligus membencinya. Aku bangga pada bapak karena dia orang sukses. Ia seorang pengusaha dan kader partai yang kariernya sedang meroket. Oleh banyak orang, aku dianggap sebagai anak orang kaya.
Tapi belakangan aku mulai membencinya. Terutama sejak aku memergoki bapak bersama wanita selingkuhannya. Bahwa bapak punya wanita idaman lain selain ibu, sesungguhnya sudah lama aku curigai. Aku baru percaya setelah memergokinya langsung.
Aku memergoki bapak dengan selingkuhannya secara tak sengaja. Tatkala kawan-kawan sekolahku bermain ke rumah untuk belajar kelompok, salah satu diantara mereka mengaku kerap melihat mobil Mitsubishi Pajero putih punya bapakku melintas di kawasan perumahannya.
Tapi aku bilang mobil seperti itu kini kan banyak pemiliknya. Mobil Pajero putih boleh dibilang memang lagi ngetren. Kawanku mengiyakan meski ia juga yakin Pajero yang dilihatnya sama persis dengan Pejero milik bapakku. Cerita tentang Pajero pun sejenak dilupakan.
Suatu hari, saat giliranku bermain ke rumah kawanku itu, melintaskan mobil Pajero milik bapakku. Aku yakin sekali itu milik bapak, selain nomornya sama, juga ada garis kuning di plat mobil tersebut.
Aku segera meluncur menyusulnya menggunakan sepeda motor dengan kawanku. Ternyata benar. Setelah mobil itu berhenti di halaman sebuah rumah cukup besar, bapakku keluar dengan seorang wanita muda. Aku segera memanggilnya, tanpa curiga.
Bapakku tampak terkejut bukan main. Namun segera bisa mengendalikan diri. Wanita muda bersama bapak juga tak kalah terkejutnya. Ia bisa segera tenang setelah bapakku berhasil menguasai keadaan.
Bapak lalu tanya sedang ngapain aku di situ. Aku segera menceritakan bahwa aku sedang bermain di rumah teman seraya memperkenalkan kawan di sebelahku.
Karena bapak mau menceritakan hal penting, sesuai permintaan bapak, aku mengantar pulang kawanku duluan. Setelah itu, bapak bercerita tentang siapa wanita muda yang kini bersamanya.
Kata bapak, wanita itu dulu merupakan sekertarisnya. Lalu keluar karena dilarang bekerja oleh suaminya. Tak lama kemudian suami wanita muda itu minggat dengan wanita lain dengan meninggalkan utang dengan rumah sebagai jaminannya.
“Jadi bapak kasihan. Lalu membeli rumah ini dan meminta dia untuk tetap tinggal di sini dan merawatnya,” katanya.
Aku mengangguk-angguk meski bapak tahu bahwa aku belum sepenuhnya paham. Bapak lalu berbisik. Bahwa itu cerita antarpria. Hanya antara aku dan bapak.
“Wanita itu umumnya sensitif. Jika bapak salah menceritakan soal ini, ibumu pasti marah. Bapak tak ingin ibumu sedih, mengira yang bukan-bukan,” ucapnya.
Sebelum pulang, bapak mengingatkanku untuk tak membocorkan apa yang barusan diceritakan padaku. Alasannya karena ia sendiri yang akan menceritakannya langsung pada ibu.
Agar aku benar-benar menjaga rahasianya, bapak memberiku uang sebesar Rp 1 juta. Uang kontan terbesar yang pernah diberikan bapak.
***
Sebagai anak orang kaya, rumahku besar dan bertingkat. Rumah itu sudah direnovasi beberapa kali dengan mencaplok lahan dan rumah di sebelah kanan dan kirinya. Boleh dibilang, rumahku termasuk beberapa rumah paling mewah di sebuah pemukiman warga yang padat.
Di rumah mewah itu dulu tiga buah mobil. Dua mobil biasa dipakai bapak secara bergantian yakni Mercedes Benz dan Pazero putih tadi. Satu lagi Toyota Innova yang biasa digunakan menjemputku dan adik-adikku.
Lalu mobil Mersedez dijual karena bapak mengaku sedang mengembangkan usaha. Usaha apa, hanya bapak sendiri yang tahu. Tapi, menurut dugaanku, mungkin juga untuk membeli rumah yang kini ditempati mantan sekertarisnya itu.
Sejak naik kelas 2 SMP, aku tak mau dijemput lagi karena malu. Bapak telah membelikanku sepeda motor. Kata bapak, ia sudah diperbolehkan naik sepeda motor oleh kakek sejak sekolah dasar. Yang berarti lebih muda dari aku.
Bapak memang selalu mendidiku seperti masa mudanya. Mungkin ia menganggap cara mendidik terhadap dirinya bisa diterapkan terhadapku. Ia membayangkan aku adalah wujud dari masa mudanya.
Secara fisik mungkin ia benar karena aku adalah anak kandungnya. Banyak yang menyebut wajahku mirip bapak dibanding ibu. Dan bapak sangat bangga dengan kemiripan itu.
Tapi bapak lupa. Bahwa aku lebih banyak dibesarkan dan dididik oleh sentuhan ibu yang lembut dari pada dirinya. Selama ini, bapak terlalu sibuk mencari uang. Semua keberhasilan pun seolah diukur dengan kekayaan semata.
Ia menganggap lelaki itu berkuasa apalagi punya kedudukan dan banyak uang. Ia pernah menyebut Nabi Muhamad juga beristri empat. Karena itu punya istri lebih dari satu adalah sah.
Tapi aku lebih setuju dengan pendapat ibu. Kata ibu, lelaki dan perempuan sederajat. Tak ada perempuan yang mau dimadu, seperti tak ada lelaki yang rela istrinya selingkuh. Nabi beristri empat karena tuntutan zaman. Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Lagipula dia seorang nabi yang punya maksud luhur dengan keputusannya.
Seorang bapak harus bisa menjadi teladan bukan saja oleh anak lelakinya, tapi juga anak perempuannya. Jika dia punya banyak istri, apakah ia rela anak perempuannya kelak menjadi istri kedua, ketiga, dan sebagainya.
“Jadi jangan melihat dari sisi lelaki tapi juga dari sisi perempuan. Dari sisi Ibu,” katanya.
***
Meski hatiku berada di pihak ibu, aku belum berani menceritakan apa yang dilakukan bapak dengan mantan sekretarisnya itu. Bukan aku bermaksud menjaga rahasia bapak, tapi aku takut ibu berduka dan putus asa.
Sejauh ini aku tak pernah melihat ibu bersedih, apalagi menangis. Hanya sekali aku melihat ibu menangis, yakni ketika eyang kakung atau bapaknya ibu meninggal dunia.
Ibu merupakan sosok yang sabar, selalu berusaha tersenyum, aku pernah sangat merindukannya ketika berlibur seminggu di rumah nenek di Jawa.
Sebaliknya, sejak kasusnya kupergoki, bapak jadi royal terhadapku. Ia kerap memberikan uang jajan cukup banyak. Uang jajan itu kemudian aku simpan. Oleh ibu, aku selalu dibiasakan untuk menyimpan uang alias menabung.
Bapak menjadi royal karena mungkin menganggap aku sebagai anak yang bisa dipercaya, khususnya menjaga rahasia bapak.
***
Suatu hari, berita heboh menimpa bapakku. Foto-foto dia bercinta dengan mantan sekretarisnya beredar di media massa, terutama media online. Aku, ibu dan keluarga besar ibuku kaget.
Bapak pun dikejar-kejar wartawan yang ingin mengkonfirmasi. Mereka menongkrongi rumahku, dikira bapak ada di rumah. Kami menjadi stress.
Atas saran tante Lina, adiknya ibu, aku diungsikan ke rumah nenek di Jawa. Aku nurut saja. Mungkin itu memang jalan terbaik, sebab kawan-kawanku di sekolah juga mulai mempergunjingkan tentang bapakku. Sebagai anaknya, aku mungkin dianggap sama seperti bapakku.
Di Jawa, aku tak pernah lagi mengikuti perkembangan berita tentang bapak. Namun menurut tante Lina, selain kasus foto syur, bapak juga disangkutkan dengan kasus suap menyuap sejumlah proyek yang dimenangkannya.
Masih menurut tante Lina, itu semua terkait intrik politik. Bapak dianggap salah satu kader partai yang berpotensi dicalonkan sebagai kandidat walikota. Masalahnya ada kader partai yang berambisi serupa dan kemudian menjegalnya.
Nah, wanita cantik yang disebut bapak sebagai sekretarisnya itu, ternyata wanita yang dikenal bapak dari tempat hiburan malam. Wanita itu dimanfaatkan oleh lawan politik bapak.
“Ah, bapak. Kalau nggak main wanita dan menyakiti ibu pasti nggak kayak begini.” Dalam hati, aku tetap menyalahkan bapak.
***
Tibalah saatnya aku ingin menceritakan apa yang aku tahu tentang bapak kepada ibu. Dan ibu hanya tersenyum mendengarnya.
“Ibu sudah tahu. Bapakmu itu kariernya terlalu cepat hingga lupa diri. Sekarang biarlah bapak menikmati lakonnya,” kata Ibu.
Rupanya bapak pernah melontarkan keinginan untuk menikah lagi. Ibu tak mengiyakan atau menolaknya. Ibu hanya bilang apakah bapak tega melihat aku dan dua adikku punya ibu tiri, punya bapak tukang kawin. Lalu apa pula pandangan keluarga besar ibukku jika ternyata ada keturunannya beristri dua?
Sejak itu bapak tak pernah lagi menyampaikan niat untuk menikah. Tapi bapak kemudian memilih memelihara wanita simpanan. Wanita yang disebut sekretarisnya bukan yang pertama.
Bapak dan aku mengira ibu tak tahu soal itu. Padahal ibu tahu tapi diam. Ibu tahu tapi lebih memikirkan nasib aku dan dua adik perempuanku yang masih kecil. Sekarang ibu mengungsikan anak-anaknya juga demi itu.
“Apakah ibu akan menerima bapak jika kasusnya selesai?” Aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu.
“Bagaimanapun, toh dia tetap bapakmu nak?,” jawab ibu
Diam-diam aku makin menganggumi ibu.
Aku lalu lari ke dalam kamar dan mengambil sebuah amplop besar yang aku masukkan ke dalam kardus playstation. Amplop besar itu berisi belasan juta uang sogokan dari bapak yang aku simpan.
Sambil menceritakan asal-usul uang tersebut aku menyerahkannya pada ibu.
“Ini titipan dari bapak untuk ibu.”

 Penulis : 

Lihat Sumbernya : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/05/10/ibu-tahu-bapak-selingkuh/

Share on :


Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar

Followers

Berita Populer Minggu Ini