Taman Kanak-kanak
Aba (panggilanku untuk ayah) menggandeng langkah kecilku menuju pintu
kelas. Sebelumnya dia memboncengku dengan sepeda tuanya dari rumah ke
sekolah. Sepeda tua nya bukan jenis ontel, lebih sedikit modern dari
itu, walau rantainya menggunakan rantai motor. Kursi sepeda terbuat dari
besi, kursi yang sering membuat pantatku sakit, berhubung jalanan kecil
di Makassar saat itu masih banyak yang berlubang.
Di dalam kelas sudah banyak anak kecil lain. Entah aku anak yang pemalu
atau cukup aktif seperti sekarang. Aku tidak begitu ingat dengan masa
Taman Kanak Kanak. Hanya beberapa yang kuingat, kakiku yang terjepit
ayunan atau kepalaku bocor karena terbentur pondasi sekolah. Dan yang
aku ingat, aba yang memperkenalkanku. Memperkenalkan jagoan kecilnya.
Jagoan kecil yang merengek takut ditinggal pulang. "Aba, tunggu aku
sampai pulang yah"
Sekolah Dasar
Aku sudah bisa membaca dan menulis, walaupun tulisanku masih ala tulisan
cakar ayam tapi aku bangga sudah bisa menulis. Kini aku yang
memperkenalkan diriku kepada teman-teman dan guruku, walau masih
menunggu untuk disuruh. Tadi pagi memang Ummi (panggilanku untuk ibu)
berbisik dan berjanji mengantarku sekolah, bisikannya membuatku semangat
membawa tas sekolah dengan gambar superhero yang berwarna-warni.
"nak bangun, kamu sudah kelas 1 SD loh"
Bisiknya sambil tersenyum membangunkanku, yaa cintamu membuatku optimis ummi.
Kini di depan kelas, aku bisa memperkenalkan diriku sendiri, dan juga
menyebut dengan bangga nama kalian di depan teman dan guruku.
"Juanda Ayahku, Yusna Ibuku". Dengan penuh senyum kusebut itu .
MTs, Aliah, dan SMA
Aku sudah mulai beranjak dewasa, ini masa remajaku. Tepat kelas 3 MTs
nanti aku sudah mimpi basah. Aku sudah mulai menyembunyikan banyak hal,
termasuk dalam perkenalan. Aku tak lagi menyebut nama Aba dan Ummi dalam
perkenalanku, tak ada kesempatan untuk itu. Malah, pertanyaan yang
biasa seperti hobi dan ukuran sepatu yang lebih sering muncul. Kenapa
tak ada kesempatan dalam perkenalan untuk menyebut nama kalian ?. Begini
memangkah masa remaja ?. Masa dimana sudah ada jarak, masa dimana aku
dan remaja lainnya sudah mulai enggan menyebut nama kalian di depan
teman sebaya. Aba dan Ummi maaf, tak sempat kusebut nama kalian dalam
perkenalanku. Padahal aku tahu, namaku selalu ada dalam lirih doa
kalian.
Kini aku Mahasiswa
Aku sudah mulai mengurus administrasi untuk pendidikanku sendirian.
Kalian tak lagi mengantarku ke gerbang kampus. Aku sudah membawa motor
pemberian kalian, hanya kucium tangan dan pipi kalian sebelum berangkat
tadi. Ummi, kau mengusap kepalaku dan mencium pipi sambil berujar,
"kuliah yang baik ya nak".
Dan Aba, kau tetap berpesan seperti biasa kepadaku,
"Jangan lupa shalat".
Aku hanya mengangguk dan pergi.
Aku kini berada di dalam kelas, banyak wajah baru disini. Mereka teman
kuliahku, semua sebaya. Banyak tahun kulewati dengan pengalaman untuk
berkenalan. Aku tak sungkan lagi menjulurkan tangan sebagai tanda
perkenalan kepada teman baruku. Bahkan, jika ada wanita yang mengganggu
pikiranku, tak sungkan kuminta nomor hapenya. Semua berubah, kini aku
pria dewasa yang sudah lebih percaya diri. Tapi, tak juga kuperkenalkan
nama kalian, Aba dan Ummi.
Entah sampai kapan kebiasaan ini kulakukan. Aku tak lagi dengan bangga
memperkenalkan nama kalian. Tak seperti ketika aku SD dan Tk yang
semangat menyebut nama kalian. apa semua anak remaja seperti ini ?.
Lagi-lagi aku bertanya hal itu.
Aku berjanji, suatu saat, akan ada seorang gadis yang betul-betul akan kupinang sambil kuperkenalkan nama kalian.
"Juanda Ayahku, Yusna Ibuku"
Lihat Sumbernya
Note : mungkin karena ada di beberapa daerah yang menjadikan nama orang tua sebagai bahan ledekan. Maka dari itu saya jarang memperkenalkan nama orang tua kecuali kepada orang tertentu.
0 komentar